Rekreasi Awal Tahun ke TN Baluran

4:39 AM

Jalan beraspal dan semakin ramai pengunjung, kesan pertama Saya ketika mengunjungi Taman Nasional Baluran untuk ke-dua kalinya. Dulu, sekitar lima tahun lalu, saat pertama kali ke sini, jalan masuk sampai ke dalam belum beraspal, sebagian di awal mungkin sudah beraspal tapi sudah rusak, selebihnya batu makadam dan tanah berlumpur. Bahkan beberapa titik mendekati Pantai Bama jalannya seperti track off road. Pengunjung pun tidak banyak, paling banyak fotografer, turis manca negara atau orang yang mau bird watching, karena Baluran juga dikenal sebagai Taman Nasional dengan ragam burung yang banyak. Itu lah nostalgia Saya dengan Taman Nasional Baluran.

Savana Bekol.
Sekarang sudah berubah, terutama jalannya. Mulai dari pintu masuk sampai ke dalam sudah beraspal, mulus. Dari loket pembelian karcis sampai Savana Bekol, jalan beraspal hotmix. Selanjtunya sampai ke Pantai Bama jalan juga sudah diratakan tapi sepertinya menggunakan jenis aspal yang berbeda.

Jalannya lebar tapi bagian yang diaspal sempit tapi juga muat untuk dua mobil berpapasan. Tapi harus pelan dan melipir banget. Oh iya, di dalam Taman Nasional Baluran terdapat batas kecepatan berkendara, sudah sejak beli tiket masuk diingatkan kalau kecepatan maksimal yang diperbolehkan adalah 40 Km/jam sampai di Bekol. Dari Bekol ke Pantai Bama, batas kecepatannya lebih pelan lagi, 20 Km/jam. Batasan ini dibuat tentu agar pengemudi berhati-hati apa lagi kalau ada satwa melintas, biar tidak kaget kemudian ngerem mendadak. Celakanya kalau ada satwa menyebrang jalan, bisa ketabrak, kan kasihan. Selain itu ya nikmatilah pemandangan sekitar dengan pelan-pelan. Namun tetap saja ada beberapa pengendara yang melaju melebihi batas kecepatan maksimal.

Memasuki Savana Bekol setelah sekitar 20 menit berkendara, mulai terlihat padang rumput yang sangat luas sejauh mata memandang ini sedang kering. Beberapa bagian yang berdekatan dengan jalan tidak ditumbuhi rumput, entah memang sedang musimnya atau terlalu sering dilewati manusia. Pohon-pohon yang berdiri sendiri, berjauhan dengan lainnya, sudah pasti menjadi spot foto yang tidak akan dilewatkan oleh pengunjung.

Bekol masih sama seperti dulu ketika Saya berkunjung ke sini, hanya saja sekarang lebih ramai pengunjung.
Savana Bekol yang sedang mengering padahal juga sedang musim hujan.
Salah satu Wisma di Bekol yang disewakan.
 Perjalanan berlanjut ke Pantai Bama, berjarak sepuluh menit dari Bekol. Jalan yang dulu berkelok dan berlumpur layaknya jalur off road sekarang telah rata dan dikeraskan. Sepertinya kebanyakan pengunjung memang tujuannya Pantai Bama ini, ya memang tidak ada lagi selain ke sini. Terlihat dari penuhnya tempat parkir. Di sini pengunjung menikmati dan bermain di pantai. Bersenang-senang bersama keluarga dan rekan. Selain pantai, di dekat Bama, kalau mau berjalan kaki sejauh 50 meter ke selatan, kita bisa menemui dermaga hutan bakau. Di sini angin bertiup sepoi-sepoi. Kalau mau berjalan lebih jauh lagi, ada bird watching track, sebuah jalur untuk pengamatan burung. Masuk ke dalam hutan. Kalau jeli, kita bisa menemukan atau sekedar mendengar cuitan burung yang indah dan beragam.

Taman Nasional Baluran sepertinya juga menjadi jujugan pasangan pra nikah untuk berfoto mesra. Ada juga yang ke sana untuk hunting foto mengajak model. Dalam perjalanan ketika di Evergreen Saya menemui rombongan yang sedang berfoto prewedding, kemudian di Bekol juga, dan tentu saja di Pantai Bama. Kemudian Saya juga melihat serombongan orang dengan beberapa model mengenakan gaun pengantin, besar dan berumbai-rumbai, tapi tanpa mempelai pria. Saya kira mereka juga sedang huntung foto. Untuk urusan foto macam ini, entah perizinan dan ongkosnya seperti apa Saya kurang tahu. Pengunjung yang suka selfie? berfoto untuk sekadar mengisi feed media sosial? tentu saja banyak, tapi untungnya di Baluran tidak ada photo booth ala-ala instagramable yang norak itu. Hanya papan penunjuk tempat dan satu tulisan besar bertuliskan BAMA di parkiran. Saya bukan hendak nyinyir ke mereka yang suka foto untuk feed medsos, biar saja, ini sudah bagian dari perubahan perilaku zaman. Toh Saya juga berfoto untuk posting-an ini.



Saat siang, wisatawan ramai sekali. Mungkin ketika Saya ke sana saat weekend, entah kalau weekdeys. Mau sepi? nginep saja di sini, saat sore sekitar pukul lima pengunjung sudah pulang, bahkan penjaga, tukang parkir, penjual makanan di kantin, mereka pulang semua. Mungkin tinggal petugas Taman Nasional saja yang masih di kantor, di Bama ada kantor juga. Atau berangkat subuh, biar sampai sini pas waktu sunrise, masih sepi juga itu. Dan mentari terbit di sini, keren banget.

Kemarin Saya menginap semalam di Pantai Bama. Di sini terdapat satu wisma yang disewakan. Di Bekol juga ada wisma yang bisa di sewa, tapi Saya lebih memilih di Pantai, biar bisa santai. Fasilitas yang terdapat di wisma ini adalah dua kamar tidur dengan kasur empuk, satu kamar mandi, ruang tamu dengan sofa, washtafle tapi kerannya gak mancur, dan satu kipas angin. Di sini listrik menyala dari pukul enam sore sampai pukul sebelas malam. Lima jam saja. Bisa dimanfaatkan untuk nge-charge batrai dan menyalakan kipas karena panas dan banyak nyamuk. Oh ya, kalau sampean berencana menginap di wisma Saya sarankan membawa obat nyamuk, bakar maupun semprot, karena nyamuknya banyak. Kemarin Saya lupa bawa, jadi duduk-duduk ngorbol di ruang tamu saja dikerubungi nyamuk. Tidur dengan was-was akan dikerubungi nyamuk tapi untungnya Saya tidur dengan nyenyak sampai pagi, mungkin karena kecapean habis main kano.
Satu-satunya wisma di Pantai Bama.
Sore di Pantai Bama Saya habiskan dengan bermain kano. Ada yang menyewakan, sepertinya dari petugas TN sendiri. Saya benar-benar bersenang-senang dan menikmati diri sendiri dengan bermain kano. Kano ini permainan yang memanjakan ego. Kita gak perlu mikirin kerja sama. Dayung sendiri, senang sendiri, capek sendiri, kalau membuat kesalahan ya nyemplung sendiri.
Setelah bangun tidur, pagi sekali membuat timelapse sunrise di Pantai Bama.

Soal ongkos. Tiket masuknya Rp. 15.000 ditambah Rp. 1.000 untuk asuransi per orang. Kalau bawa mobil tambah lagi Rp. 10.000 untuk sekali masuk. Di Pantai Bama dikenakan lagi ongkos parkir, Rp. 2.000 untuk sepeda motor dan Rp. 5.000 untuk mobil. Kemudian ongkos sewa wisma, untuk wisma di Bekol, kabarnya tarifnya Rp. 50.000 per kamar semalam. Saya kurang ingat karena dari awal memang berencana menginap di Pantai Bama. Sementara wisma di Pantai Bama tiap malamnya Rp. 250.000 ketika ditelpon saat booking, tapi ketika sudah sampai di sana ternyata itu tarif untuk satu kamar, kalau mau dua kamar atau sewa serumah, tarifnya jadi Rp. 300.000 untuk semalam. Sewa Kano Rp. 50.000 untuk dua jam, tapi waktu itu sudah sore dan sepertinya akan capek sekali kalo bermain kano sampai dua jam, akhirnya Saya kembalikan saja. Yang penting Saya sudah bersenang-senang dan bahagia.
Tiket Masuk Wisatawan Taman Nasional Baluran.
Tambahan tarif untuk mobil.
Himbauan yang tidak hanya untuk diperhatikan tapi juga dilaksanakan.
Tambahan ongkos parkir di Pantai Bama.
 Oh ya, Satwa di Taman Nasional Baluran itu banyak dan beragam. Kalau mau baca referensi atau website atau buletin dari TN mungkin akan mendapat banyak informasi. Tapi yang paling mudah dan sering ditemui di TN Baluran adalah Kera, banyak sekali. Kita harus waspada menjaga barang bawaan kita, karena mereka berani mendekat dan mampu membuka tas kemudian mengambil barang di dalamnya. Apa pun yang berwarna menarik dan berbau makanan akan mereka ambil. Selain Kera, yang mungkin akan mudah di temui adalah Banteng dan Rusa, tapi mereka berdua hanya bisa ditemui pada saat-saat tertentu, apalagi sekarang banyak sekali pengunjung mungkin mereka sembunyi saat ramai. Waktu magrib atau pagi, mereka akan berkumpul di Savana, atau saat haus kemudian minum di kubangan yang ada di Savana. Kemudian burung, mungkin kita tidak akan bisa melihatnya langsung tapi kita bisa mendengarkan cuitannya yang ramai, paling tepat untuk mendengarkan burung ini adalah waktu pagi. Ya karena di saat itu lah mereka keluar.

Kalau sudah mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan di Baluran, jangan abai dengan lingkungan. Kita harus tetap menjaganya. Paling mudah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Bungkus atau kemasan makanan dibawa saja sampai ketemu tempat sampah atau sekalian dibawa pulang, jangan meninggalkan sesuatu apa pun selain jejak. Menjaga makanan dan barang bawaan dari jangkauan Kera maksudnya untuk ini juga, karena ketika Kera berhasil mengambil barang atau makanan kita, kemudian dia memakannya, kemasannya akan dibuang begitu saja dan akhirnya jadi sampah juga. Iya kalau masih di Parkiran atau di pantai, masih bisa dibersihkan, gimana kalau dibawa masuk hutan? Kita bukan Kera kan makanya jangan nyampah sembarangan!

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe