Candi Kesiman dan Air Terjun Grenjengan di Pacet


Pagi ini tidak terlalu pagi saya bangun, tapi karena sudah dari kemarin berencana bakal ke Candi Kasiman dan Air Terjun Grenjengan di Pacet saya tetap berangkat walaupun tahu kalo udah agak siang begini mau motret pemandangan jadinya kurang bagus. Ya tujuan utama saya memang mau motret sekalian ambil footage video.
Candi Kasiman

Selain untuk bersenang-senang tentunya.

Candi Kasiman berada di Desa Sajen, Pacet. Awalnya saya agak kebingungan mencari lokasi Candi ini. Kalau berdasar panduan peta digital sih, Candi ini berada di tengah sawah, jauh dari permukiman. Enaknya jalan ke Candi Kasiman ini sudah beraspal meskipun ada beberapa titik jalan yang sudah rusak, menampakkan bebatuan makadam, tapi tak apa daripada becek.


Hampir saja saya kebablasan hingga akhirnya menemukan sebuah penunjuk jalan menuju Candi. Kali ini jalan menuju Candi ialah jalan setapak tanah tapi masih muat kalo mau dilewati motor. Ternyata letak Candi berada di lereng persawahan yang menjorok ke bawah dekat dengan sungai. Pantas saja bangunan Candi tidak tampak dari jalan.

Sampai dekat Candi saya hendak mendekat dan mengitari Candi, sekedar lihat-lihat saja, tetapi tidak bisa karena dipagar kawat berduri mengelilingi Candi dan kunci gembok. Mau memutari candi tapi dikelilingi sawah basah.

Saya pun mengeluarkan kamera bersiap mengambil gambar dengan angle sebaik-baiknya dari tempat yang memungkinkan untuk dipijak.


Setelah merasa cukup mengambil gambar, saya packing lagi melanjutkan ke spot wisata berikutnya.

Eh, meskipun ini posting tentang lokasi wisata di Pacet, ini bukan tentang promo pariwisata.

Tujuan saya berikutnya ialah Air Terjun Grenjengan, berada di sekitar Pemandian Air Panas Pacet, Padusan. Lebih tepatnya berada di sebelah selatan pemandian air panas. Untuk mencapai sana kita harus berjalanan kaki melewati jalan setapak. Tidak jauh kok, paling tidak untuk ukuran saya.

Air Terjun Grenjengan berada di dalam kawasan Perhutani, apa mungkin Tahura R. Soerjo ya? saya agak lupa. Memasuki kawasan ini tentu saja kita harus bayar, jadi siapin aja beberapa receh untuk beberapa kali bayar.

Hutan di sepanjang jalan menuju Air Terjun Grenjengan
Air Terjun Grenjengan

Air Terjun Grenjengan

Saya akan sedikit bercerita mengenai urusan bayar-membayar ini, anggap saja curhat.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan kalau harus bayar, karena setiap kita melewati gerbang berarti sudah memasuki kawasan baru yang bisa jadi diprivate. Kecuali kalo sedang tidak bawa duit, itu akan jadi masalah.

Ketika masih di bawah sebelum memasuki kawasan Air Panas Pacet kita akan bertemu dengan gerbang besar dan tentu saja ada loketnya, kita harus bayar di situ. Sebagai gantinya kita diberi karcis masuk, ada tiga lembar, entah apa saja saya belum sempat baca. Setelah meninggalkan loket jalan menuju Air Panas Pacet menanjak, di atas sudah menunggu loket pemeriksaan karcis. Semua karcis yang kita bawa harus kita serahkan di sini untuk kemudian disobek oleh petugas. Nah ini, kenapa harus disobek coba, belum sempat membaca apa saja tulisan di karcis itu tapi sudah disobek saja. Bukankah cukup ditunjukkan saja sebagai bukti kalau kita sudah membayar? Biasanya di lokasi wisata juga menarik ongkos untuk asuransi apabila terjadi kecelakaan. Saya sih tidak berharap ini terjadi, tapi kalau ada bukti pembayaran kan enak kalau mau nagih hak korban. Atau mungkin kalau terjadi kecelakaan di dalam kawasan seluruh korban otomatis mendapat santunan asuransi, syukur deh kalau gitu.

Berikutnya ialah penitipan sepeda, sudah pasti, Saya tahu di sini pasti bayar. Karena ini bukan pertama kalinya saya ke sini. Dulu sering main air di kolam air panas. Dan di mana-mana kalau ada tempat parkir pasti ada ongkos untuk parkir. Ada gula ada semut. Tapi, bukankah tadi ketika masih di loket bawah kita sudah bayar untuk kendaraan masuk? Oh, mungkin itu cuma untuk kendaraan yang masuk kawasan saja, bukan untuk parkir. baiklah.

Setelah menitipkan motor, Saya melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Air Terjun Grenjengan. Kali ini jalannya setapak, tapi agak luas, kalau motor trail aja pasti bisa masuk sini, tapi lebih baik jangan. Lagi-lagi, di tengah perjalanan setapak yang ngos-ngosan ini ada loket pembayaran lagi. Kali ini saya bilang, lho bukannya tadi di bawah sudah bayar? Iya tapi ini kawasan yang lain lagi mas, begitu jawabnya. Kawasannya siapa?

Sudah saya sampaikan kalau saya tidak mempermasalahkan urusan bayar-membayar macam ini. Toh saya juga menikmati tempat wisatanya, tapi kenapa tidak dijadikan satu saja di depan, sekali bayar gitu. Di sini saya juga tidak sempat membaca apa aja tulisan yang ada di karcis, karena setelah dari loket ada petugas pemeriksa karcis yang langsung merobek karcis. Tapi karcis di sini mendingan, ada usaha desain dan dicetak di kertas AP120 sepertinya, agak bondo. Adanya loket pembayaran lagi dengan alasan kawasan yang berbeda ini membuat saya bertanya-tanya dan berprasangka. Apakah benar kawasan wisata ini dikelola oleh pihak yang berbeda? Seolah para pihak yang berbeda ini berusaha meraih keuntungan sendiri-sendiri. Setahu saya, Kawasan Pemandian Air Panas dan Air Terjun ini masuk ke dalam kawasan Perhutani, bukankah itu pihak yang sama? Atau mungkin Air Terjun Grenjengan merupakan kawasan atau wahana baru yang apabila ingin ke sana harus bayar.



:)

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram