Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Mengunjungi Pantai Bantol itu seperti mengunjungi sebuah komplek pantai. Sebab Pantai Bantol yang sudah cakep itu baru pintu masuk ke pantai-pantai lain di kanan kirinya. Namun, sebelum kita sampai ke sana, kita harus berjuang melewati jalan makadam sepanjang kira-kira 3 Km yang katanya nanti akan dijadikan Jalur Lintas Selatan dari kampung terakhir yakni Sumberceleng yang becek di musim penghujan.
Berjalan-jalan di Pantai Bantol

Menurut Saya, Pantai Bantol ini bisa jadi pantai terdekat yang dapat dijangkau dari pusat Kota Malang. Mungkin barang dua jam sudah sampai. Dari Kota ke selatan terus hingga Kepanjen, kemudian Pagak masih ke selatan terus dan sampailah di Pantai Bantol.

Ketika sudah sampai, siapkan saja uang beberapa puluh ribu untuk tiket masuk sekaligus parkir. Uang yang kita bayarkan termasuk ongkos toilet, jadi kalau ke toilet tidak perlu bayar lagi. Begitu kata penjaga loket.

Dari tempat parkir menuju Pantai Bantol kita berjalan ke kanan, tidak seberapa jauh tapi kita harus mendaki bukit sedikit. Saat di puncak bukit kita disambut dengan panorama pantai selatan Jawa. Ketika menuruni bukit ada jalur di sebelah kiri menuju Pesanggrahan, sebuah spot memancing dari atas karang.
Pantai Bantol ketika air laut surut.
Pantai Bantol memiliki pasir yang luas dan sungai yang bisa disebrangi dengan berjalan kaki kalau air laut sedang surut. Kalau sedang pasang sudah pasti pasir pantai akan tenggelam menyisakan sisi tepi dan apabila ingin menyebrangi sungai harus menggunakan prahu. Atau berenang saja kalau mau basah-basahan dari awal. Waktu paling tepat untuk menyebrangi sungai adalah sore hari. Karena saat itu lah air laut sedang surut.

Kenapa kita harus menyebrangi sungai? Karena Pantai Bantol ini baru pembukaan, di sebelah barat dan timurnya masih ada pantai lain. Kalau tidak mau menyebrang, lebih baik ke Pantai sebelah timur saja. Tapi Saya akan cerita ke Pantai sebelah barat dulu.

Dari Pantai Bantol kita berjalan melalui jalan setapak yang mengitari karang. Jalan setapak ini di musim hujan selalu becek dan berlumpur, nikmati saja. Setelah melewati jalan setapak sampailah di Pantai Kedung Celeng. Di Pantai Kedung Celeng ini Saya mendirikan tenda untuk berkemah. Jika dilanjutkan berjalan ke barat lagi menyusuri pantai, kita akan sampai di Pantai Pulo Doro dan Weden Ombo. Kedua pantai ini mempunyai pasir putih yang panjang.

Bermalam di pantai atau berkemah di mana pun itu, rasanya kurang lengkap bila makan tidak masak sendiri. Saya sudah menyiapkan saat berangkat mampir dulu ke pasar untuk belanja sayuran dan buah-buahan. Kali ini Saya tidak belanja beras, mie instan, telor, atau pun daging seperti tatkala naik gunung. Untuk makan malam dan sarapan di Pantai Bantol ini saya sengaja ingin makan sayuran dan buah-buahan saja.
Capjay untuk makan malam dengan kentang sebagai pengganti nasi, tapi sayang kelupaan beli sayur yang ijo-ijo, jadi kurang berwarna.

Namun, satu hal yang kurang tetapi malah membuat Saya ingin mengunjunginya lagi ialah cuaca. Tatkala saya sampai di sana siang hari disambut dengan gerimis kemudian langit mendung sampai sore. Bahkan sampai malam. Rencana memotret matahari terbenam dan milkyway urung terlaksana. Pun hari berikutnya yang Saya harap akan cerah, mendung masih menyelimuti langit. Sinar matahari hanya terasa sebentar dan itu pun langit masih tertutup mendung putih. Alhasil foto-foto saya banyak menampilkan langit mendung dan flat.
Pantai Kedung Celeng
Pantai Pulo Doro
Pantai Weden Ombo
Sebelum pulang, Saya sempatkan bermain ke pantai sebelah timur dari Pantai Bantol. Dari tempat parkir tinggal berjalan lurus saja kita akan sampai di Pantai Seling Kates. Dari pantai ini apabila diteruskan berjalan ke timur melewati jalan setapak tentunya, kita akan sampai di pantai Seling Ombo dan Watu Buceng. Sebuah pengalaman komplit, sekali jalan ke pantai bisa bereksplorasi ke pantai-pantai lain di sebelahnya hanya dengan jalan kaki.
Pantai Seling Kates
Debur ombak di Pantai Seling Kates
Pantai Seling Ombo
Ombak di Pantai Watu Buceng
Setiap kali bermain ke alam terbuka yang selalu ingin Saya rasakan ialah ketenangan. Pantai Bantol atau lebih tepatnya Pantai Kedung Celeng karena malam itu saya berkemah di sana dan tentu saja pantai-pantai lain di sebelahnya, memberikan apa yang Saya damba. Namun kenyamanan itu tak bertahan lama. Lewat tengah malam ditengah tidur lelap datang rombongan pengunjung yang ributnya minta ampun. Bergurau saling olok dengan musik latar dari pengeras suara portable. Kesunyian, suara debur ombak, dan deringan serangga tidak lagi dapat dinikmati. Masih mendingan mendengarkan desingan nyamuk di telinga. Bahkan terdengar dari dalam tenda, urusan mendirikan tenda saja tidak bisa, membuat mereka semakin ribut. Ah sudahlah, Saya berusaha cuek dengan memejamkan mata sambil berharap terlelap. Sebenarnya, saya mengira dan juga berharap mereka datang membawa minuman keras dan menenggaknya semua di sana, biar cepat teler dan segera tidur juga. Namun sepertinya mereka anak baik-baik. Mereka terus gaduh sampai pagi.

Biar bagaimana juga Saya tetap bersyukur dapat menikmati pantai dengan berfoto dan makan makanan lezat. Ada banyak foto yang ingin saya pamerkan sebenarnya, namun untuk kisah ini segini saja cukup.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]