Subscribe

Popular Posts

Flickr Images

Like us on Facebook

Skip to main content

Catatan Harian Gowes : Tarik Sidoarjo

Gowes ke Tarik cari rute yang landai-landai saja. Sedang malas capek meladeni tanjakan, jadi ya gowesnya ke jalan yang datar-datar saja heheh. Saya berangkat pas sudah agak siang, sekitar pukul tujuh. Seperti biasa gowes tanpa tujuan pasti, cuma pengen gowes muter-muter saja.

Sampai Pasar Temu yang dekat Pabrik Gula Watutulis itu saya belok ke arah barat. Di sini menariknya ada jalur rel lori yang sudah terpendam aspal, ya namanya juga dekat pabrik gula. Dahulu kala hampir semua pabrik gula punya jaringan rel lori, ya karena cuma itu alat angkutnya.
Gowes santai sekitaran Sidoarjo Barat.
Masih di jalanan ini saya mendadak berhenti ketika melihat ote-ote yang baru digoreng, menggoda sekali. Saya beli dua saja sepertinya sudah cukup.

Setelah itu lanjut gowes, tidak lama kemudian saya sampai di Stasiun Kedinding. Saya hanya lewat saja tidak mampir atau berhenti walau hanya untuk foto-foto. Di dekat stasiun ini dibangun fly over baru, kira-kira sudah sejak dua tahun lalu. Fly over ini dibangun melangkahi jalur ganda kereta api. Selain itu Stasiun Kedinding juga mengalami perluasan, peronnya memanjang sampai memotong jalan kampung yang dulunya menyebrangi rel kereta. Itulah kenapa akhirnya dibangun fly over.

Saya coba gowes naik melewati fly over. Sampai atas saya berhenti untuk melihat-lihat dan tentu saja foto-foto heheh. Di atas fly over ini tidak ada larangan berhenti kecuali sedang tanjakan. Tapi di atas ada larangan membuka lapak berjualan. Sebenarnya juga fly over ini bukan jalan utama yang selalu ramai, apalagi pagi begini jalanan masih lengang.
Pose dulu di atas fly over dekat Stasiun Kedinding.
Saya tidak lama-lama berhenti di ats fly over, saya kembali turun. Di bawah fly over ada punden, saya berhenti di sana untuk istirahat sekalian menyantap ote-ote yang tadi saya beli. Namanya punden pasti banyak pohon-pohon besar nan rindang. Saya suka berteduh di tempat seperti ini. Dulu waktu saya masih kecil sering mendengar cerita kalau punden itu tempat yang mistis tapi sekarang sepertinya tidak. Punden ini bersih dan terawat.
Saya senang sekali kalau gowes ketemu tempat neduh dengan pohon-pohon besar begini, biar Sidoarjo dikenal panas tapi di bawah sini terasa adem.
Di sebelah punden ada warung, saya mampir sebentar untuk beli air minum, setelah itu lanjut gowes lagi. Kali ini saya memutuskan untuk pulang, sudah mulai agak siang. Di perjalanan pulang saya mengambil rute melalui Stasiun Tarik. Jalan yang akan saya lewati ini belum pernah saya lewati sebelumnya, saya sampai dua kali salah masuk gang dan kembali lagi.
Ngemil sebentar, pas banget nemu tempat yang asyik dan bikin betah untuk istirahat berlama-lama.
Sampai di Stasiun Tarik saya berhenti lagi, tantu saja untuk foto-foto. Ternyata sekarang Stasiun Tarik digeser agak ke timur dengan bangunan modern yang lebih besar dari bangunan yang lawas. Sudah lama tidak gowes mondar-mandir sekitaran sini jadi kurang update. Dulu saya pernah naik kereta dan turun di Stasiun Tarik, waktu itu stasiunnya masih bangunan yang lama.
Mampir stasiun tarik, bersandar di bangunannya yang lawas.
Tanpa berlama-lama saya lanjut gowes lagi, menuju Mojosari. Kali ini rute yang saya ambil setelah melewati Kali Mati di Kwatu adalah Jembatan Turi. Jembatan dengan dek dari kayu, jembatannya cukup lebar tapi hanya boleh dilewati sepeda dan motor. Mobil kecil mungkin masih boleh lewat tapi truk sudah pasti tidak boleh. Semoga saja ada renovasi jembatan biar semua jenis kendaraan bisa lewat.

Sampai di Mojosari saya mampir ke pasar, beli pecel karena tadi berangkat belum sarapan. Gowes hari ini memang rutenya tidak jauh tapi capeknya lumayan terasa, terutama di paha. Sudah sebulan lebih tidak gowes jauh-jauh, bahkan selama bulan puasa kemarin tidak gowes sama sekali. Gowes hari ini menjadi pembuka untuk gowes-gowes agak jauh berikutnya. Semoga konsisten.

Comments