Cerita Pengalaman Menggunakan Peppermint OS Tiga Bulan ini.

10:23 PM

Saya sudah lama kenal dan menggunakan linux tapi baru belakangan ini tahu ada distro ini. Sejujurnya meski sudah lama menggunakan Linux tapi Saya lebih sering menggunakan Ubuntu dan turunannya. Alasannya karena banyak digunakan orang lain dan mudah diinstall, itu menurut Saya. Waktu mau berganti ke Peppermint sebenarnya Saya mau ganti distro selain turunan Ubuntu atau pun Debian (Ubuntu adalah turunan dari Debian). Ketika mencari-cari dan akhirnya tertarik dengan Peppermint, Saya baru tahu kalau ternyata Peppermint juga turunan Ubuntu, baiklah.
Desktop Peppermint.



Alasan kenapa Saya berganti ke Peppermint adalah distro yang sebelumnya saya pakai, Lubuntu [yang juga turunan Ubuntu, udah jelas dari namanya] sudah gak nyaman digunakan, sudah agak lelet padahl distro ini merupakan ubuntu dengan desktop ringan. Dan belakngan wifinya suka putus sendiri.

Masalah wifi ini yang membuat Saya ingin ganti distro. Ceritanya, Lubuntu ini sebenarnya enak dipakai, sudah sekitar empat tahun Saya memakainya, hingga kemudian wifi di laptop bermasalah. Ketika sudah terhubung dengan jaringan, wifi di laptop suka tiba-tiba diskonek, dan ketika mau dihubungkan lagi, jaringan wifi tidak terdeteksi. Kalau beneran mau konek harus restart dulu. Tidak seberapa lama setelah konek ke jaringan bahkan belum hitungan menit, wifi langsung putus lagi. Masalah ini sering terjadi dan membuat saya lelah dan menyerah. Karena Saya pikir juga tidak ada projek yang sedang dikerjakan di laptop dan distro ini, Saya mulai mencari pengganti Lubuntu.

Saya menginginkan distro yang ringan dan bisa diinstall di laptop lawas, ya karena laptop Saya memang sudah jadul. Selain Peppermint Saya juga tertarik dengan PuppyLinux, kecil dan ringan sekali, membuat laptop saya terasa cepat seperti laptop baru. Namun pada akhirnya pilihan Saya jatuh pada Peppermint.

Pepermint ini buat Saya enak sekali, sudah bisa menunjang kebutuhan komputasi ringan. Laptop Saya hanya Saya gunakan untuk browsing di internet dan copy file dari SD Card ke HDD eksternal. Heheh.. Saya tahu diri tidak mau memaksa laptop untuk editing video dan urusan grafis yang berat lainnya, karen gak bakal mampu.

Interface Pappermint buat Saya enak dipandang, apa lagi sudah ada theme yang gelap-gelapan tapi tidak terlalu dark. Ya ala-ala dark theme di OS smartphone belakangan ini.

Karena Peppermint ini juga keturunan Ubuntu membuat Saya tidak perlu beradaptasi, semuanya sama. Hanya desktopnya saja yang ringan tapi masih lebih cakep dari Lubuntu.

Peppermint memang distro yang enak digunakan sesuai kebutuhan Saya, tapi bukan berarti tidak ada masalah. Eh bukan masalah pelik juga sih tapi memang mengganggu. Waktu booting Peppermint di laptop Saya, Toshiba L740, lama sekali. Lebih lama dari Lubuntu kemarin. Entah apa sebabnya, mungkin hardware lapotpnya yang memang sudah tua. Untuk masalah ini tidak sampai membuat Saya kesal, Saya masih sabar menunggu waktu booting.

Jika sampean sedang mencari-cari distro Linux untuk diinstall, Saya menyarankan Peppermint untuk dipertimbangkan. Karena distro ini memang ringan dan cepat kacuali waktu booting. Dan turunan Ubuntu yang membuatnya mudah digunakan dan banyak solusi ketika ada masalah.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe