Subscribe

Popular Posts

Flickr Images

Like us on Facebook

Skip to main content

Catatan Harian Umroh 2025: Dari Juanda ke Madinah | 01

24 Februari 2025 menjadi hari keberangkatan saya ke Arab Saudi. Seperti biasanya, malam menjelang keberangkatan ke tempat yang jauh atau acara besar, saya sulit tidur. Malam itu pun begitu, untungnya bisa tidur walau sebentar. Subuh saya bangun, saya mendapat kabar dari grup WA rombongan umroh bahwa ada perubahan jadwal keberangkatan di bandara. Jam keberangkatannya maju katanya. Saya buru-buru bersiap pagi itu.

Menyaksikan fajar menyingsing untuk pertama kalinya di Madinah. Hangat dan tenang sekali.

Dengan perasaan yang campur aduk dan kadang mules juga, saya berangkat ke Bandara Juanda.  Jalanan belum terlalu ramai, tapi suasananya terasa berbeda. Seperti ada jarak yang mulai tercipta antara kehidupan sehari-hari dan perjalanan yang akan dimulai.

Urusan boarding ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pagi sekali saya sudah sampai di bandara tapi siang baru berangkat. Dari pagi ke siang jika dilalui dengan rutinitas harian akan terasa cukup atau bahkan lama. Tapi ketika masuk urusan boarding, scan barang bawaan, dan antri imigrasi, waktu terasa berlalu begitu cepat. Bahkan kadang rasanya tidak cukup.

Pesawat akhirnya berangkat menjelang pukul 12 siang. Di tiket tertera durasi penerbangan sekitar 11 jam, dan pilot pun menyampaikan hal yang sama. Waktu selama itu, mau dipakai buat apa? pertama yang terpikir oleh saya adalah tidur. Karena kemarin malam masih merasa kurang tidur dan pagi ini hectic sekali. Pilot pun menyarankan hal yang sama kepada seluruh penumpang, lebih tidur saja di sepanjang penerbangan dari pada kebosanan karena lamanya penerbangan. Ditambah lagi nanti ketika sampai di Jeddah, tidak ada waktu istirahat, kita harus langsung melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Sebelum take-off di Juanda. Terbang ke Arab Saudi naik Lion Air. Saya kurang tahu mengenai jenis pesawatnya, tapi ini pesawatnya gede, muat hampir 500an orang. Senang sekali dapet kursi yang dekat jendela, padahal gak ikut milih kursi, heheheh...

Ketika terbangun saya  melihat keluar hanya ada hamparan awan putih, kadang juga luasnya lautan. Saya merasa beruntung karena mendapat kursi dekat jendela. Setelah sepuluh jam lebih di pesawat dan tidur di hampir sepanjang perjalanan, saya sudah ngantuk lagi. Saya melihat keluar jendela lagi, waktu itu matahari sudah hampir terbenam. Saya melihat ke bawah melalui jendela, tampak hamparan padang pasir. Sepertinya saya sudah di atas Arab, entah di mana tepatnya. Saat itu saya tahu kalau sebentar lagi akan sampai di Jeddah.

Terlihat kelipan lampu kota yang tertata rapi. Elevasi pesawat semakin rendah. Lampu lurus yang ada di bandara juga terlihat. Sebelum mendarat di bandara King Abdul Aziz, pesawat sempat membuat putaran memposisikan pada landasan yang tepat. Kira-kira waktu isya pesawat mendarat di bandara King Abdul Aziz. Saya melihat pemandangan yang jauh berbeda dengan kampung halaman. Lebih banyak papan petunjuk dengan bahasa dan font Arab di sini, tentu saja. Saat menginjakkan kaki di Jeddah udaranya masih terasa mirip dengan di Jawa, tidak terlalu dingin atau panas juga.

Setelah melewati pintu imigrasi, kami resmi memasuki wilayah Arab Saudi. Dari tempat pengambilan barang kami menuju ruang tunggu untuk nanti lanjut ke Madinah dengan naik bus. Proses ini terasa terburu-buru. Ada rasa takut ketinggalan.

Inilah alasan kenapa tadi di pesawat pilot menyarankan kami untuk tidur saja, karena setibanya di Jeddah, kami masih harus melanjutkan perjalanan yang cukup jauh ke Madinah. Naik Bus. Mau tidur juga bisa tapi tetap pasti kurang nyaman. Melalui aplikasi peta di hape saya penasaran bakal seberapa jauh perjalanan darat ini. Dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah ke Masjid Nabawi di Madinah diperkirakan berjarak sekitar 400an kilometer dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Ada beberapa rute yang muncul tapi saya tidak tahu rute mana yang akan diambil sang sopir. Waktu perjalanan aktual akan lebih lama dari estimasi karena bus akan berhenti di rest area. Ditambah lagi ternyata sopir bus di Arab sangat tertib. Bus berjalan di bawah batas kecepatan yang ditentukan, mungkin sekitar 80 km/jam. Bus juga berjalan dengan kecepatan yang konsisten, tidak kebut-kebutan. Terasa lambat sekali karena jalan raya cenderung lurus dan sepi. Tapi tidak apa, kita nikmati saja perjalanannya.

Romgongan berhenti dulu di rest area. Di sini ada toilet, mushola, dan tentu saja warung makan. Meski sudah malam sepertinya di sini selalu ramai. Kami semua turun dari bus dan merasakan hawa malam di Arab. Mungkin hangat-dinginnya terasa sama di kulit tapi terasa berbeda di hati.

Oh ya, untuk komunikasi di hape. Saya sudah beli paket roaming sehari sebelumnya. Harganya sekitar 150 ribuan untuk satu bulan. Saya pilih yang quota paket datanya sedikit tapi masa berlakunya lama. Karena paket lain yang memiliki lebih banyak quota paket data ternyata masa berlakunya hanya satu minggu. Kurang dong. Dan ternyata selama di Arab konsumsi paket data tidak sebanyak waktu di rumah, mungkin karena tidak banyak main media sosial. Selain itu selama di Madinah dan Mekah juga bisa terhubung ke wifi hotel.

Dini hari waktu setempat, kalau tidak salah ingat sekitar pukul satu. Kami sampai di Madinah. Bus mengantarkan kami langsung ke depan hotel yang sederhana. Malam itu ternyata Madinah cukup dingin. Setelah mendapatkan pembagian kamar, kami masuk ke kamar masing-masing sambil membawa satu koper besar dan satu koper kecil. Malam itu saya pikir bisa langsung istirahat, tidur di kamar sampai besok pagi. Ternyata tidak. Dini hari itu juga mutawif mengajak kami ke Masjid Nabawi setelah kami merapikan barang dan berganti pakaian.

Cerita tentang subuh pertama di sana akan saya tulis di bagian berikutnya. 

Comments