Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Aku jatuh dan tak bangun lagi, tenggelam di rayuannya, menerpa sgala angkara murka, padanya ku 'kan setia~~
Mencicipi Jagung Bakar yang dibagikan di awal Acara, disediakan pemanggang bagi pengunjung untuk mebakar jagung sendiri.
Begitu kira-kira penggalan dari lagu Roman Ketiga milik White Shoes and The Couples Company yang terngiang-ngiang di telinga tiga hari ini setelah menonton langsung penampilannya di gelaran Folk Music Festival 2018 yang ke-empat yang dihelat pada tanggal 3 - 5 Agustus 2018 di Lapangan Kusuma Agrowisata, Kota Batu akhir pekan kemarin. Saya ingin bercerita banyak tentang giat musik ini tapi bingung mau mulai dari mana.

Okay, mari Saya mulai ceritanya dari mana Saya tahu tentang giat musik ini. Sepekan sebelumnya ketika sedang scrol-scrol time line media sosial saya mendapati info perihal acara ini. Saya pun memberi tahu teman di sebelah yang kebetulan saat itu sedang nongkrong bareng. Dia menyanggupi akan berangkat juga membuat saya antusias untuk menghadiri. Namun beberapa hari kemudian dia bilang dia tidak jadi berangkat karena eh karena ada urusan mendadak di lain kota. Sayang sekali, Saya pun menjadi gamang, mau berangkat atau tidak. Namun pada akhirnya Saya tetap berangkat.

Saya merupakan pribadi yang suka membayangkan tentang apa yang akan saya alami, terutama tentang yang heboh-heboh, tapi kali ini Saya berusaha mengenyampingkan segala ekspektasi, biar nanti nggak kecewa, meski Saya yakin giat musik ini tidak akan mengecewakan.



Sabtu, 4 Agustus 2018. Hari kedua gelaran musik ini tapi hari pertama buat Saya karena dari awal Saya memang berencana beli tiket untuk hari Sabtu-Ahad saja. Tidak kebagian tiket presale dan masih ragu-ragu ketika hendak beli tiket online mengharuskan Saya beli di Ticket Box sebelum gerbang masuk. Setalah menyerahkan uang sejumlah harga tiket on the spot Saya mendapatkan antara lain kwitansi bukti pembayran dan tiket brupa gelang, dan satu lagi sebuah Newsletter berisikan ulasan singkat tentang pengisi acara dan tulisan panjang tentang musik. Mendapatkan Newsletter ini merupakan hal baru bagi Saya sepengalaman menghadiri gelaran musik, biasanya dipaksa beli rokok padahal Saya nggak ngerokok. Newsletter ini macam katalog mau masuk ke gelaran seni rupa. Karena ukurannya yang selebar tabloid, selain dibaca, pada akhirnya nanti Newsletter ini jadi alas duduk juga, heheh...

Ketika akan masuk ke venue ternyata gerbangnya belum dibuka. Di sini lah Saya bertemu dengan teman-teman yang lain. Dari luar pagar Saya bisa melihat seperti apa venue yang berdiri di atas lapangan sepak bola itu. Ada dua pangggung berdampingan dan booth lain, ini saja sudah melebihi ekspektasi Saya.

Saat gerbang dibuka, pengunjung mengantri memasuki venue. Bergantian menunjukkan tiket dan minta digelangkan ke tangan oleh petugas, karena cuma dengan cara ini tiket dianggap sah. Selangkah kemudian ada pemeriksaan barang bawaan, paling banyak yang kena dan dilarang masuk dan disita adalah minuman dalam kemasan bermerek dan rokok yang bungkusnya sudah dibuka, sokor koen.

Di dalam Saya melihat belum banyak penonton, ya karena baru dimulai. Di panggung sudah ada yang berdendang tapi Saya belum tertarik mendekat ke panggun, penonton yang lain juga. Saya juga lupa saat itu siapa yang tampil, lebih tepatnya sih tidak tahu itu siapa. Awalnya Saya kira dua panggung berdampingan itu akan menampilkan dua musisi berbarengan atau akan digunakan keduanya untuk menampung seluruh personil, tapi ternyata tidak, mungkin Saya yang kurang pengetahuan tentang acara musik macam ini. Kebanyakan penonton saat itu mengerubuti tenda merchendise.

Sisi Utara lapangan terdapat Children Playground, rumah-rumahan dan prosotan dari plastik yang disediakan untuk anak-anak yang diajak menonton oleh orang tua mereka. Sebuah sudut yang mungkin bisa untuk menyenangkan anak kecil dari keluarga muda yang ingin berbahagia.

Satu yang tak luput dari pandangan Saya adalah toilet, bagaimana pun nanti Saya akan membutuhkannya. Terdapat delapan toilet box portabel yang disediakan, masing-masing empat untuk laki-laki dan perempuan, dua diantaranya di tempatkan di sisi lain lapangan. Saya kira toilet box ini cukup banyak tapi saat pengunjung semakin membludak dan semakin malam antrian di depan toilet pun memanjang. Tahu sendiri bagaimana dinginnya Kota Batu, apa lagi kali ini semua orang di ruang terbuka, siapa yang pada akhirnya tidak kebelet ingin pipis juga barang sekali saja?

Di pojokan lapangan sedang digelar Makan Sayang dan Bincang santai bersama cast Aruna & Lidahnya, begitu yang tertulis di Jadwal Acara dalam Newsletter yang dibagikan. Acara ini sepertinya promo film baru yang akan dirilis. Saat itu Saya juga ikut mengerubuti cast Aruna & Lidahnya tapi sayangnya di panggung musik sana juga sedang ada musisi yang sedang tampil, jadi Saya tidak terlalu bisa mendengarkan apa yang sedang diobrolkan, akhirnya Saya tinggalkan saja majlis ini dan duduk-duduk di bangku hitam tidak jauh dari situ.
Antrian prasamanan.
Setelah acara bincang-bincang itu selesai, satu lagi hal baru yang saya saksikan di sebuah gelaran musik yakni makan bareng cast Aruna & Lidahnya serta sebagian musisi yang akan tampil yang sudah hadir siang itu, unik juga pikir Saya. Namun karena sebelum berangkat ke Batu Saya sudah sarapan, jadinya Saya nggak tertarik ikut makan. Saat itu Saya mengambil jagung yang bisa langsung dibakar juga di tungku yang sudah disediakan di situ juga, hal unik lain yang saya temui hari itu. Acara makan-makan ini memang tidak kalah memorable dengan musik yang ditampilkan. Sebuah kesan yang baik di awal acara atau mungkin Saya yang kurang bergaul.

Hari beranjak sore, satu per satu penampil menyuguhkan musik yang asik. Penonton semakin banyak berdatangan. Saya menemui wajah-wajah familiar di antara penonton, rupanya ada juga teman Saya yang hadir. Tegur sapa sebentar kemudian beralih ke teman yang lain. Hari Sabtu itu yang paling Saya tunggu penampilannya ialah Efek Rumah Kaca (ERK) di penghujung susunan acara. Tetapi sebelum ERK tampil, sejak sore sampai malam, ada beberapa musisi yang sebelumnya tidak terlalu saya ketahui tapi setelah didengarkan ternyata enak juga. Ialah Daramuda dan Danilla yang memukau sore itu.
Penampilan Gardika Gigih.
Daramuda adalah kolektif musik yang beranggotakan 3 musisi lintas arah : Danilla, Rara Sekar, & Sandrayati Fay. Proyek woles mereka ini hadir dalam wujud video karya-karya mereka, sendiri-sedniri, di lokasi yang terpisah--dan semuanya direkam secara live di alam terbuka maka suara-suara macam suara hembusan angin, air mengalir, kicau burung, atau gesekan rumput pun akan ikut trerdengar. Paragraf ini dikutip langsung dari Newsletter yang dibagikan, heheh.. Sedangkan Danilla, siapa yang tidak tahu dia?

Selain itu ada Secret Guest yang ternyata ialah Robi vokalis dari band Navicula yang tampil sendirian tapi kadang mengajak tampil musisi lain juga.
Robi Navicula.
Di akhir pertunjukan, tentu saja ada ERK yang membuat penonton yang tadinya duduk-duduk sejak awal acara berdiri berdesak mendekat ke panggung. Satu per satu lagu berdurasi panjang disenandungkan sampai tidak terasa hampir tengah malam dan gelaran musik harus diakhiri.

Sungguh Saya ingin bercerita tentang betapa bahagianya Saya bisa mendengarkan musik yang dilantunkan langsung oleh musisinya di depan mata Saya dalam gelaran musik yang keren ini. Saya ingin menceritakan perasaan Saya ketika mendengarkan lagu demi lagu yang ditampilkan, tapi tidak mudah bagi Saya merangkai kata untuk mengungkapkannya. Saya tidak ingin tulisan Saya dengan bahasa yang mbulet ini merusak euforia malam itu. Intinya Saya bahagia malam itu dan masih ada satu hari lagi.
Tampak suasana malam dari pojokan Lapangan.
Penonton berkumpul di depan panggung.
Akhirnya yang ditunggu hari itu, Efek Rumah Kaca.
Hari Ke-dua atau terakhir. Ahad, 5 Agustus 2018. Saya berangkat lebih siang yang akhirnya melewatkan penampilan dari Wake Up, Iris! Sayang sekali. Saya berputar-putar mengelilingi venue bersama teman-teman mencari posisi duduk yang nyaman. Padahal di mana pun duduknya tetap saja lesehan.

Kebiasaan Saya sebagai pengambil foto dan video dalam sebuah event yang kadang memang pekerjaan Saya membuat Saya bingung dan sulit menikmati seluruh penampilan musik. Di satu sisi Saya hanya ingin datang, duduk, dan menikmati seluruh penampilan musik dengan mata dan telinga Saya, dengan seluruh indra perasa dan merekamnya dalam ingatan kepala saja. Namun di lain sisi berulang kali Saya tiba-tiba merogoh kamera yang sengaja Saya bawa kemudian mengambil gambar foto dan video, refleks. Kalau sudah begini fokus Saya tentu beralih ke alat perekam agar gambar yang Saya ambili sesuai dengan kemauan Saya, jadinya tidak terlalu menikmati musik. Selain itu, selama dua hari itu Saya hanya membawa satu lensa fix yaitu EF-S 24mm f/2.8 yang merupakan lensa wide, sudah pasti foto dan video yang saya dapatkan pun wide shot semua, gak ada yang close up kecuali yang difoto dari dekat. Tapi ya tidak apa lah, jadi ada bahan untuk diposting di blog dan dipamerkan di media sosial.
Berfoto juga sebagai penanda waktu dan memori.
Duduk lesehan menikmati lantunan musik dari musisi di panggung.
Monita Tahalea.
Fourtwnty.
White Shoes And The Couples Company.
Sama seperti hari sebelumnya, penampil terkahir yang paling Saya tunggu, White Shoes and The Couples Company atau WSATCC. Namun selain WSATCC yang paling saya tunggu di hari Ahad ini ialah Monita Tahalea. Tidak perlu Saya ceritakan tentang keduanya karena pembaca seharusnya sudah tahu. Ada juga Fourtwnty yang tampil di seperempat awal malam. Sama dengan kemarin, musisi yang tidak Saya duga bisa Saya nikmati penampilannya ialah Jason Ranti, unik dan lucu, kesan ketika menyaksikannya. Fourtwnty yang membuat penonton berdiri dan berdansa di lagu terkahir kemudian duduk lagi. Apalagi WSATCC, penonton berdiri semakin rapat mendekat ke panggung, tentu tidak semua, di belakang masih banyak yang menikmati dengan duduk-duduk santai.

Tiga hari setelah gelaran Folk Music Festival 2018 kulit muka saya mengelupas karena dingin dan keringnya udara Kota Batu. Banyak yang ingin Saya ceritakan, saking banyaknya mungkin banyak juga yang terlewatkan. Tulisan Saya ini tentu tidak dapat menggambarkan seperti apa dan ada apa saja selama giat Folk Music Festival. Namun tetap saja Saya ingin bercerita di sini meski tidak banyak. Semoga tahun depan ada lagi dan Saya dapat menghadirinya dengan perasaan lebih bahagia.

2 comments:

  1. thank atas inspirasinya mas sepertinya saya juga tertarik menulis blog mas setelah saya baca blog ini :D haha

    ReplyDelete

Bottom Ad [Post Page]