Hasil Foto Kamera Mainan Aquapix

2:10 AM

Hasil foto dari kamera mainan ini memang tidak setajam kamera ponsel masa kini, beberapa foto terlalu gelap sehingga banyak noise, beberapa foto lainnya fokusnya meleset padahal fixed focus terutama pada foto selfie. Dan beberapa kesalahan lainnya seperti angle keliru, salah pencet, ketutup jari dan lainnya. Tapi dari masalah itu semua, pengalaman menggunakan kamera mainan ini seru juga. Terutama saat menunggu hasil cuci scan yang harus dikirim keluar kota sampai dua minggu. Antusias.

Pemandangan Gunung Penanggungan, hasil foto dari kamera mainan aquapix menggunakan roll film Kodak Color Plus 200.

Sebelumnya telah saya ceritakan tentang bagaimana menggunakan kamera mainan ini. Seru juga memotret dengan hasil yang masih misteri. Nah sekarang roll film yang Saya gunakan untuk memotret telah dicuci scan, sudah bisa dilihat hasilna. Ya, sekarang isitlah yang dipakai cuci scan bukan cuci cetak lagi seperti dahulu karena prosesnya memang roll film yang sudah dicuci tidak dicetak tapi discan. Kalau mau cetak tinggal bawa file digital scan yang labih banyak diterima di studio cetak foto dari pada film seluloid.

Antusias, yang Saya rasakan selama menunggu hasil cuci roll film. Mula-mula Saya mencari tempat cuci roll film di Mojosari tapi tidak ada. Kemudian Saya ke Malang, mengunjungi setiap tempat cetak foto, menanyakan apakah masih bisa melakukan cuci cetak roll film tapi ternyata sudah tidak ada lagi. Kalau cuma mencetak dari roll film yang sudah dicuci ada beberapa tempat tapi kalau memproses cuci film sudah tidak.

Sempat bingung juga mau dibawa ke mana roll film ini, ingin lihat hasilnya tapi tidak tahu lagi mau ke mana untuk memprosesnya. Saat itu saya mau mencoba memanfaatkan media sosial. Menanyakan ke mana Saya bisa mencuci roll film. Ternyata lumayan juga yang merespon, beberapa  menyarankan untuk dibawa ke studio foto yang sebenarnya sudah Saya kunjungi, beberapa menyarankan untuk menghubungi @dari_masalalu sebuah akun IG yang menerima dan mengumpulkan roll film untuk dicuci secara bersama-sama. Segera saja saya mgnhubungi dan mencari informasi kapan akan diadakan pengumpulan roll film untuk cuci bersama lagi.
Tentu saya ikut cuci scan kolektif, mereka menyebutnya begitu, karena ini satu-satunya harapan bisa melihat hasil foto dari kamera minan. Saya harus menunggu sampai dua pekan untuk melihat hasilnya. Roll film yang terkumpul akan dikirim ke Bandung dan dicuci scan di sana, begitu informasi yang saya dapat.

Dua pekan selama menunggu hasil cuci cetak, saya merasa excited, antusias, berekspektasi dan berharap entah untuk apa, tentu saja penasaran juga hasilnya akan seperti apa. Seluruh perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya untuk sebuah foto. Dulu sebenarnya sudah pernah mengalami momen mencuci roll film, sudah lama, sudah lupa rasanya. Lagi pula saat itu kalau tidak salah waktu tunggu roll film selesai dicuci hanya beberapa hari saja. Dan saat ini kalau cetak foto dari file digital hanya menunggu beberapa jam saja untuk ratusan lembar.
Hasil fotonya, setelah menunggu proses cuci scan selama dua pekan. Beberapa jelek beberapa lainnya bagus, sesuai ekspektasi. Namun semuanya tetap membuat Saya senyum-senyum sendiri kalau melihatnya. Sesuai karakter roll film Kodak Color Plus 200 yang berwarna kuning itu, kata orang-orang foto-fotonya jadi yellowish, warnanya kekuning-kuningan, dan memang begitu hasilnya.

Enaknya cuci scan roll film itu, kita bisa tahu, melihat langusng hasil fotonya dalam bentuk file digital. Jadi bisa memilih lagi foto yang mana saja yang mau dicetak. Mau diposting di media sosial juga gampang. Tinggal upload saja.

Berikut ini beberapa foto saya posting di sini dengan sedikit cerita di caption:
Ayam di halaman rumah, jepretan awal saat baru memasang roll film.
Menonton gig musik indi, Folk Music Festival di Batu awal Agustus 2018. Memotret dengan kondisi minim cahaya, udah bukan low light lagi ini, bahkan hampir gelap gulita. Nyaris hanya lampu saja yang kelihatan.
Candi Jolotundo, dipotret siang hari. Roll film ini memang cocok untuk motret siang-siang karena ISO yang cuma 200, apalagi kamera mainan aperture dan speed tidak bisa diatur.
Salah satu kesalahan dalam memotret menggunakn kamera mainan. Waktu itu dikiranya udah selesai motret, tapi kurang yakin, saat diperiksa gak sengaja tombol shutter kepencet dan jadilah foto ini.
Nah itu lah beberapa foto hasil dari kamera mainan aquapix dan roll film Kodak Color Plus 200. Memotret dengan teknologi lawas, analog, memang seru. Tapi itu sebatas mainan saja, kalau mau serius apalagi untuk urusan pekerjaan, Saya lebih memlih motret menggunakan kamera digital dengan teknologi kekinian. Lebih efisien, bisa lihat langsung hasilnya dan tidak perlu keluar biaya lebih untuk cuci, scan, sampai cetak.

Tapi, dari itu semua, kelebihan dan kekurangan menggunakan mainan. Saya puas dengan hasilnya, masih excited, dan berencana akan memotret lagi dengan roll film dialam kamera mainan. Karena Saya masih punya satu roll film lagi, baru dipasang.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe