Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Dibilang nostalgia ya sebenernya gak juga sih, soalnya waktu teknologi kamera masih menggunakan seluloid Saya masih belum pernah punya kamera. Kamera pertama Saya saja kamera poket digital. Meskipun begitu Saya sudah merasakan bagaimana rasanya difoto pada zaman itu, walau pun tidak tahu prosesnya bagaimana sebuah foto sampai dicetak.
Kamera mainan dan wadah roll film yang bisa dijadikan kemasan korek api anti badai.
Belasan tahun kemudian saat saya mengidamkan kamera tapi gak butuh-butuh banget, Saya mencoba browsing di internet dan mencari tahu kamera apa yang mungkin cocok buat Saya. Sampai akhirnya Saya menemukan sebuah kamera mainan. Awalnya agak ragu apakah kamera ini benar-benar bisa dipakai untuk memotret atau tidak. Namun karena hanya kamera ini yang mampu Saya beli pada akhrinya Saya beli juga. Membeli kamera ini melalui toko daring juga merupakan pengalaman pertama kali Saya bertransaksi tanpa tatap muka dengan penjual. Agak deg-degan antara kamera yang Saya beli akan sampai di rumah atau malah kena tipu.

Saat itu kamera mainan ini harganya 60 ribuan. Ini juga alasan Saya berani membelinya, murah dan kalau sampai ketipu mungkin Saya bisa dengan mudah mengikhlaskannya. Sekitar dua minggu kamera mainan pesanan Saya sampai di rumah. Saya sangat antusias saat membongkar kardus pembungkus.

Kesan pertama Saya, bahagia. Karena pengalaman belanja daring saya tidak dikecewakan. Tapi setelah membuka dan melihat langsung wujud kamera mainan ini, Saya kembali ragu. Apakah kamera ini benar benar bisa digunakan atau tidak. Melihat bentuknya sungguh meragukan, seperti benda yang kurang niat untuk dibuat. Untuk membuktikan keraguan, Saya membeli satu roll film berwarna yang saat itu harganya masih belasan ribu. Memasangnya dan membawanya jalan-jalan.

Cukup lama Saya memakainya, roll film yang berisi 36 frame tidak langsung Saya habiskan. Saat itu sempat juga Saya bawa ke Baluran, sebuah Taman Nasional di Situbondo yang berbatasan langsung dengan Banyuwangi. Saat itu juga kamera mainan Saya bawa untuk berenang di tepian pantai, sekalian mencoba fitur water proof-nya. Tapi waktu itu air laut di pantai sedang agak keruh, jadi hasil fotonya pun jelek.



Setelah menghabiskan seluruh 36 frame, Saya membawa roll film ke studio foto yang masih menerima pencucian film. Waktu itu saja sudah sulit mencari studio foto yang masih menerima. Untung setelah menanyakan ke beberapa teman ada juga studio foto yang masih mau memproses roll film. Waktu itu roll film tidak saya cetak, hanya cuci saja karena Saya pun ragu akan hasilnya. Daripada buang-buang duit.

Lalu bagaimana Saya tahu hasil fotonya kalau tidak dicetak, bukannya film negatif juga tidak menunjukkan hasil yang sebenarnya? Saat itu saya mendengar kalau film negatif bisa "dipositifkan" melalui Photoshop. Saya pun mencari tahu akan hal ini. Dan memang bisa dengan mudah Saya menemukan tutorial dan menirunya.

Roll film yang sudah Saya proseskan kemudian saya scan atau potret dengan latar cahaya terang. Kemudian diimport ke Photoshop. Di Photoshop, scan negatif di-invert sehingga menjadi positif. Kemudian diatur saturasi warna dan keseimbangan serta lainya. Detail bagaimana Saya melakukannya akan Saya ceritakan saja di posting yang lain karena caranya memang cukup panjang.

Begitulah cerita Saya dengan kamera mainan dan roll film 35mm. Saya menggunakannya hanya untuk main-main dan senang-senang saja. Karena apabila digunakan untuk urusan pekerjaan, selain memang tidak punya kamera analog yang mumpuni, proses memotret dan setelahnya akan sangat merepotkan.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]