Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Saya bukan penyuka kopi tapi Saya punya tempat yang Saya suka untuk ngopi atau sekedar nongkrong di Mojosari. Kebiasaan ngopi ini Saya dapatkan ketika masih kuliah dulu. Sering berkumpul bersama teman-teman sambil ngopi bahkan tempat nongkrong pun di warung kopi. Kebiasaan ini terbawa sampai rumah. Tidak ngopi beberapa hari kadang membuat Saya kangen.
Cappucino
Kegelisahan ini yang membuat saya keluar rumah dan mencari warung kopi. Beberapa warung kopi dari yang terdekat dengan rumah sampai di sekitaran Mojosari saya coba. Ada banyak yang saya kunjungi tapi tidak membuat Saya ingin kembali.

Ada kalanya para penyuka kopi bilang, kalau mau ngopi ya ngopi saja, ngobrol dengan teman atau orang lain di sekitar, jangan sibuk sendiri dengan smartphone atau laptop. Betul, saran yang baik untuk bersosialisasi, tapi Saya orang yang sebaliknya. Pergi ke warung kopi untuk koneksi internet.



Warung kopi di Mojosari semakin banyak tapi kopinya cenderung sama saja. Mereka bersaing dengan menawarkan wifi gratits. Tapi kadang juga tidak sepenuhnya gratis apalagi bila sampean menggunakan laptop, akan ada beberapa ribu biaya tambahan yang dikenakan. Inilah yang membuat Saya tidak kembali ke warung kopi yang pernah Saya kunjungi. Bukannya enggan membayar, tapi Saya tidak terbiasa dengan transaksi macam ini, kenapa tidak harga kopinya saja yang dinaikkan? Begitu Saya labih bisa menerima.

Suatu ketika ditengah obrolan dengan seorang teman di warung kopi. Dia bercerita di Mojosari ada warung kopi dengan menu yang berbeda dengan kebanyakan warung kopi di Mojosari dan terdapat juga koneksi wifi dengan bandwidth menyenangkan.

Warung kopi itu adalah D'Home Cafe And Art Space. Benar saja, pemilik warung kopi ini membolehkan pelanggannya berselancar di internet menggunakan laptop, terdapat colokan juga di sini, antisipasi kehabisan daya batre. Warung kopi ini beralamat di Jl. Brawijaya No.2, Mojosari. Beberapa langkah kaki dari perempatan Panjer.
Depan warung kopi.
Ada banyak menu atau jenis kopi yang disajikan, antara lain Aceh Gayo, Prianger, Kintamani, Wamena, Toraja, Sidikalang, Kerinci, Temanggung, Arjuno,
Ijen Lanang, Solok, Mandailing, Excelso, Luwak. Dari sekian banyak macam kopi yang ditawarkan Saya paling sering pesan Macchiato atau Cappucino karena cuma dua itu yang Saya rasa cocok dengan perut Saya. Kopi lainnya terlalu asam dan akibatnya nanti sakit perut, bisa mencret seharian besok.

Di hari tertentu juga ada live music, Saya tidak tahu ini terjadwal atau tidak karena yang memainkan musik sepertinya pelanggan juga. Memang ada set alat musik lengkap yang bisa dimainkan.
Suka musik? Bisa nge-band di sini.
Ada juga rak dengan beberapa buku di dekat bangku pelanggan tapi Saya tidak pernah tertarik membaca buku-buku itu. Bukan tidak suka membaca tapi mungkin ya judulnya tidak ada yang membuat Saya tertarik.

Satu hal yang tidak ada padahal ada di nama warung kopi ini, Art Space. Saya tidak pernah menemui ruang pameran kesenian atau semacamnya. Atau mungkin yang dimaksud "Art Space" itu adalah sudut ruangan dengan alat musik itu tadi, entahlah.

Begitu lah tentang warung kopi favorit Saya di Mojosari yang membuat Saya selalu kembali. Beragam kopi dan jaringan wifi-nya sangat membantu aktifitas dan pekerjaan Saya yang membutuhkan koneksi internet.

Saya menulis demikian dengan harapan warung kopi ini semakin sering dikunjungi pelanggan selain Saya agar tidak buru-buru bangkrut dan tutup. Agar Saya selalu punya tempat nongkrong yang nyaman.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]