Pengalaman menggunakan sepeda Polygon Monarch 3 (sebuah review)

4:19 PM

Sudah satu tahun ini Saya gowes dengan sepeda Polygon Monarch 3, kesan pertama ketika melihatnya dulu, sepeda ini cakep. Saya sendiri tidak terlalu fanatik atau mengerti segala seluk-beluk tentang sepeda. Bagi Saya asal sepeda bisa digowes dan jalan, itu sudah cukup. Mengenai kenyamanan dan teknologi terkini, bisa menyesuaikan atau dipikir nanti.

Gowes ke Puncak Puthuk Kembang menggunakan sepeda Polygon Monarch 3.

Saya akan me-review sepeda Polygon Monarch 3 berdasarkan pengalaman yang Saya rasakan selama satu tahun ini. Jadi review ini akan subjektif dan personal sekali, kebanyakan pendapat pribadi tanpa pembanding. Munkgin akan Saya bandingkan dengan sepeda tua Saya.

Saat pertama kali gowes dengan sepeda ini rasanya enak sekali, nyaman dan keren, sudah pasti karena sepeda baru. Kemudian semakin sering Saya gowes dengan sepeda ini. Tidak setiap hari juga tapi paling tidak hampir setiap pekan. Pernah Saya pakai gowes agak jauh dari rumah, ke Jolotundo, Trawas atau Waduk Tanjungan, tapi biasanya ya deket-deket sekitar rumah. Gowes dengan sepeda baru memang enak.

Setelah satu tahun berlalu, sepeda ini masih lebih enak dari pada sepeda tua Saya, sepeda yang sudah Saya pakai sejak SD dulu. Dari posisi duduknya saja sudah beda, kemudian perpindahan gear juga halus. Enak deh pokoknya. Kalau untuk dipakai gowes santai sendirian atau bareng teman-teman sepeda ini oke banget.

Sepeda bagus dan enak dipakainya bukan berarti tidak ada masalah. Apa lagi setelah satu tahun pemakaian, pasti ada aja kerusakan atau ketidak nyamanan. Pertama, posisi duduknya lama-lama tidak nyaman untuk postur tubuh Saya. Posisi stang setir yang rendah membuat Saya aga menunduk kalau gowes. Ini membuat badan cepat capek, apa lagi perut saya lumayan menggelembung, jadi setiap paha mentok dengan perut, semakin cepat capek. Tapi saya mengakalinya dengan stem riser, semacam extender untuk menambah tinggi stang setir. Riding position Saya pun kembali enak. Gowes jauh pun gak capek.
Baut standar samping yang mudah longgar dan hilang.

Masalah berikutnya, standar samping (jagang) yang dibelakang itu bautnya lama-lama kendur. Apa lagi kalau habis dipakai melewati jalan yang tidak rata, gravel misalnya, atau waktu downhill, bautnya pasti mengendur. Setiap kali saya rapatkan nanti kalau dipakai di jalan yang off road pasti akan kendur lagi. Terakhir kali Saya pakai melewati jalan gravel yang membuat sepeda bergetar, bautnya sampai terlepas satu dan tidak Saya sadari, sudah pasti baut itu hilang. Sekarang sedang Saya cari penggantinya di toko baut, semoga saja ada.

Masalah lain yang mirip sama baut standar belakang, baut di cakram rem depan ternyata juga mengendur bila dipakai untuk lewat jalan berkerikil yang membuat sepeda bergoncang. Apa lagi jalan menurun dan banyak mengerem. Saya baru menyadarinya pas sudah sampai rumah, untuk tidak ada baut yang hilang, jadi tinggal saya rapatkan lagi. Masalah ini pun juga bukan pertama kalinya, sebulumnya juga pernah demikian.
Baut cakram rem depan juga mudah longgar, kalau sampai lepas saat gowes pasti akan sangat berbahaya.

Setelah ini belum tahu apa lagi masalah yang akan muncul. Selain yang sudah Saya sebutkan sepeda ini masih baik-baik saja. Semoga saja tidak ada kerusakan yang parah atau pun kerusakan yang spare part-nya susah didapatkan.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe