Susur Pantai Geopark Ciletuh

1:07 AM

Pekan ke-dua bulan November tahun 2018, Saya diajakin teman-teman dari Sekolah Alam Indonesia Cipedak menyusuri pantai di Geopark Ciletuh, Sukabumi. Kalo jalan-jalan sih Saya mau-mau aja. Di posting ini Saya mau berbagi cerita perjalanan dan tentu saja foto-foto selama menyusuri pantai-pantai di Geopark Ciletuh.

Duduk-duduk mengitari api unggun di tepian Pantai Cikeueus.
Waktu itu perjalanan yang direncanakan menempuh jarak sekitar 15 km tapi waktu yang dibutuhkan untuk menjalani itu semua dua hari satu malam, ditambah lagi dua hari perjalanan pulang-pergi dari dan kembali lagi ke Jakarta. Hari pertama tentu saja perjalanan darat dari Jakarta. Hampir satu hari untuk mencapai Sukabumi, penyebabnya apa lagi kalau bukan padatnya lalu lintas dan tentu saja jarak yang jauh. Untung waktu itu perjalanan lumayan lancar. Jujukan pertama adaah Pantai Asri, di sini juga nantinya akan berkemah dan menginap. Pantai Asri ini tempatnya di tepi jalan raya, jadi belum perlu trekking untuk mencapainya.

Pemandangan di Pantai Asri menurut Saya biasa saja, apa mungkin karena saat itu mendung dan gerimis? hmm bisa jadi. Kalau langit cerah dan bisa melihat matahari terbenam bisa lain lagi ceritanya. Saat malam menjelang barulah Saya mendapatai keindahan yang lain. Dekat pantai ada jalan menanjak, sepi hanya sesekali dilesati kendaraan. Saya jadi ada ide untuk memotret. Sebab kondisi sekitar yang gelap gulita Saya jadi agak kesulitan ngest kamera. Sedikit utak-atik jadilah sebuah foto long exposure.
Pantai Asri, pemberhentian pertama, camp pertama.
Besok pagi, kami melanjutkan perjalanan, atau lebih tepatnya baru memulai perjalanan. Setelah sarapan kami berangkat meninggalkan Pantai Asri. Medan awal yang kami susuri masih berupa pantai berpasir. Tapi kemudian setelah menanjak sedikit, medan yang kami lalui berupa batuan karang. Karena jalur yang kami lewati agak memanjat kami harus hati-hati. Tidak lama jalur yang kami lewati semakin naik, melwati kebun-kebun wargam kemudian semakin naik lagi menerabas semak-semak, semakin naik lagi, ternyata jalur yang kami lewati membawa kami ke puncak bukit yang tadi kelihatan dari Pantai Asri. Lelah sekali, ini acara susur pantai tapi pake naik sampai puncak bukit.

Kami istiraht sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. Melewati jalanan aspal sebentar kemudian memasuki kebun warga, semakin turun sampai di pantai lagi. Jenis medan pantai yang kami lewati sangat beragam, selain pantai berpasir, batuan karang dan perbukitan, pantai yang kami lewati ada juga yang berupa batuan bulat, seperti bebatuan kali di pegunungan. Ada juga pantai dengan karang lantai, maksudnya pantainya berupa batu karang yang rata, tidak tajam seperti lantai. Karena pantainya seperti lantai, di beberapa bagian yang tergenang air dan ada sedikit lumut menjadi licin, jadi kalau jalan harus hati-hati. Ya sepenjang jalan harus hati-hati juga sih.

Keramba? atau apa namanya, rumah-rumah apung untuk menangkap ikan.
Tuh, keramba atau apa namanya, banyak sekali kan, seperti laba-laba air.
Gambaran medan yang dilalui, pasir, batuan karang, karang lantai, bebatuan bulat.
Entah tiang itu dibangun untuk apa padahal jauh dari permukiman, sangat jauh sekali.
Masih soal medan pantai yang kami lalui, selain yang sudah disebutkan, ternyata kami juga harus melewati, bukan cuma melewati tapi juga merayap dan memanjat tebing karang. Kadang harus memakai bantuan tali juga, biar tidak terpeleset dan jatuh kemudian terluka konyol.

Setelah berjalan  kaki selama satu hari, kami sampai di camp ke-dua, Pantai Cikeueus. Kami bermalam di sini, memasak, makana malam, dan mengisi air.

Keramba lagi, digantung menancap ke karang.
Ombak menerjang Karang.
Petang di Cikeueus. Keramba-keramba itu ternyata punya daya listrik untuk penerangan.
Hari ke-dua trekking atau hari ke-tiga kalau dihitung dari awal, ya tentu kami harus melanjutkan perjalanan, kalau tidak bagaimana kita bisa sampai tujuan? Tapi sebelumnya, seperti rutinitsa pagi biasanya, masak-masak kemudian makan. Perjalanan kali ini medannya masih mirip kemarin tapi lebih mudah, tidak terlalu menanjak dan tidak juga merayap di tebing karang. Lebih mudah tapi kalau dihitung-hitung jaraknya memang lebih jauh. Tujuan berikutnya yang menjadi titik akhir dari perjalanan ini adalah Cimarinjung. Selama perjalanan langit aagak mendung, awalnya sih cerah tapi lama kelamaan mendung juga. Enaknya sih trekking jadi tidak terlalu panas, adem tapi juga harus buru-buru biar gak keburu hujan.Soalnya males juga kalo basah-basahan. Tapi ya namanya nasib, akhirnya kehujanan juga. Padahal sudah dekat, perkampungan di Teluk Ciletuh sudah terlihat. Di Cimarinjung ini merukapakan sebuah kampung, jadi ada jalan raya yang bisa dilalui kendaraan untuk jemputan pulang. Kami menginap semalam di Cimarinjung ini, desa yang epic.
Epic scene of Cimarinjung.
Perjalanan Pulang.

Di Cimarinjung ini juga ada air terjun, namanya Curug Cimarinjung. Sebenarnya masih ada air terjun lainnya, tapi jaraknya agak jauh dari Cimarinjung. Tapi juga masih masuk dalam kawasan Geopark Ciletuh.

Nah beginilah cerita susur pantai saya, cuma kronologis belaka, sebenearnya masih bisa dikembangkan lagi cerita ini, tapi mungkin lain kali saja. Untuk kali ini biar foto-foto di sini yang menceritakan lebih.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe