Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

Idul Fitri 2017, seperti tahun-tahun sebelumnya sepanjang usia, tiap kali hari raya atau liburan sekolah kala masih sekolah dulu, sekeluarga pasti ke Trenggalek, karena di sana lah rumah kerabat dan nenek. Cerita kali ini sebenarnya pengalaman tahun kemarin, tapi pengalaman pertama mendaki gunung Orak-arik yang tidak terlalu tinggi itu. Bukannya sombong, tapi gunung itu memang tidak terlalu tinggi hanya 430 mdpl saja. Entah sudah bisa dibilang gunung atau bukan.
Puncak Gunung Orak-arik dilihat dari Bukit Banyon.
Rumah nenek tidak jauh dari Gunung Orak-arik ini, dari halaman rumah, puncak gunung terlihat jelas dengan mata telanjang. Ada pepohonan rimbun dan tower di atas sana, entah tower apa. Sejak memilki pengalaman naik gunung dan tahu bagaimana caranya naik gunung, Saya mulai tertarik untuk mendaki ke Gunung Orak-arik. Tapi baru tahun kemarin Saya ada waktu dan benar-benar serius mendaki ke Gunung Orak-arik.

Ceritanya, waktu itu pagi-pagi baru bangun tidur yang agak kesiangan. Awalnya agak gamang apakah benar-benar mau berangkat atau tidak. Dengan ransel berisi sebotol besar air mineral dan kamera, Saya memantapkan hati untuk tetap berangkat, kalau tidak saat itu kapan lagi coba, masa mau ditunda-tunda terus.

Setelah sarapan Saya berpamitan ke orang tua dan saudara yang lain. Jujur, Saya tidak tahu jalur naik ke Gunung Orak-arik itu lewat mana, tapi dari jalan setapak menuju tegal nenek Saya sepertinya ada jalur naik ke sana. Namun pagi itu Pak Lik Saya berujar, "jangan lewat situ, jalannya memutar jauh, mending lewat desa sebelah saja, lebih dekat". "Oke kalau begitu antarkan Saya ke sana", jawab Saya. Dengan membonceng motor Saya diantar ke desa yang dimaksud. Sampai di sana Saya bertanya ke warga setempat, apa benar ini jalur menuju ke Puncak Orak-arik sambil menuding jalan setapak. Iya katanya dan Saya pun percaya. Dengan langkah pasti Saya mulai berjalan.



Dari bawah sini Puncak Gunung Orak-arik memang terlihat lebih dekat. Tidak lama jalur yang Saya lalui semakin menanjak, kemiringannya semakin terjal. Tanaman kebun mulai berganti tumbuhan liar di hutan. Beberapa kali Saya berhenti untuk istirahat dan minum air, hampir separuh botol habis, Saya harus mulai berhemat. Dari ketinggian ini Saya bisa melihat panorama di bawah sana. Tidak jauh setelah melanjutkan perjalanan, jalur yang Saya lalui semakin tidak jelas. Dalam artian sebenarnya, tidak ada bekas jejak sama sekali, semak belukar semakin rimbun seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Saya turun lagi sampai terakhir kali saya melihat bekas jalur, kemudian menyisir ke kiri. Sama, tidak saya temui jalur bahkan semakin terjal. Saya kembali kemudian menyisir ke kanan, sama saja, tidak ada jalur. Saya turun lagi untuk berpikir mau lewat mana. Turun lagi ke kampung tentu bukan pilihan, akan terlalu jauh untuk pulang dan puncak sepertinya sudah dekat.

Sepengalaman saya, jika naik gunung jalurnya landai dan tidak terlalu sulit untuk didaki kemudian bertemu dengan jalur yang terjal berarti sudah dekat dengan puncak atau paling tidak merupakan penambahan level/ketinggian yang banyak, maksudnya sama saja semakin dekat dengan puncak. Dengan keyakinan puncak yang tidak jauh lagi meski belum tentu benar. Saya memutuskan untuk tetap naik menerobos semak belukar yang rapat, agak melipir kanan kiri agar tidak terlalu terjal. Sejenak Saya menyesal kenapa tadi tidak pinjam parang agar lebih mudah menerabas semak-semak yang menghalangi. Semakin naik semakin berkeringat saya mencium bau tidak sedap, tentu bukan aroma keringat Saya sendiri karena ini seperti bangkai. Saya tetap naik. Sambil menunduk mencari celah semak Saya terkejut. Astaga ada bangkai di depan mata. Rupanya ini sumber aroma tidak sedap tadi. Sepertinya bangkai anjing atau entah apa karena Saya tidak terlalu memperhatikan. Buru-buru saya berpaling dan menghindar, baunya menyengat sekali. Tidak jauh dari situ, jarak antar semak semakin lebar, dan ternyata seya bertemu dengan jalur setapak lagi. Saya berbelok ke kanan mengikuti jalur yang naik, tidak lama Saya sudah sampai di puncak. Benar dugaan saya, puncak Gunung Orak-arik memang tidak jauh.

Di puncak ada beberapa Hal yang saya temui. Pohon besar menyambut kedatangan saya. Ada patung kecil menyerupai arca berbentuk singa dan kepala manusia. Di dekatnya ada patok batas desa dan kecamatan. Tidak jauh dari situ, masih di bawah tajuk pohon besar, terdapat makam. Menyapu pandangan ke timur, benar saja ada tower di sini, ternyata tower repeater radio. Sepertinya ada radio komunikasi yang bisa digunakan di dalam gardu karena Saya mendengar orang yang sedang ngobrol melalui radio. Dari puncak sini saya bisa melihat ke bawah, ke rumah nenek. Kemudian Saya juga bisa melihat Kota Trenggalek yang tidak terlihat seperti kota. Puas beristirahat dan berfoto Saya memutuskan untuk pulang.
Duduk di atas patok batas desa di bawah pohon besar, swafoto dengan bantuan tripod.

Gardu dan tower radio.

Panorama sebelah selatan, perkampungan dan sawah yang luas.

Sebelah Utara, Kota Trenggalek di kejauhan yang masih dikelilingi sawah.

Savana kecil.
Saat pulang Saya memilih jalur yang berbeda dengan jalur berangkat tadi. Kali ini Saya mengikuti jalur setapak yang terlihat jelas. Memasuki hutan Jati, ada banyak percabangan. Saya memilih cabang yang kira-kira membawa Saya lebih dekat dengan rumah nenek, entah sampai mana pun tembusnya.

Semakin ke bawah semakin banyak saja percabangan yang harus Saya pilih. Ya berbekal insting yang sekedar kira-kira Saya memilih jalur. Ternyata di sini juga ada tanah lapang seperti padang savana. Tidak terlalu luas sebebnarnya, tapi untuk ukuran Gunung setinggi 430 mdpl dengan hutan kecil, tanah lapang ini lumayan luas. Lanjut jalan, lagi-lagi Saya menemui jalan buntu. Tapi Saya tidak terlalu khawatir karena ini tinggal turunnya saja. Saya tinggal pilih mana turunan yang tidak terlalu terjal saja. Ada beberapa pohon pisang yang sengaja di tanam dan sebuah gubug di kejauhan, sepertinya saya sudah tidak terlalu jauh dengan peradaban, dan benar saja saya menemukan jalur bahkan warga yang sedang ke tegal.

Saya ikuti saja jalur yang turun, jalur yang sekiranya paling sering dilalui orang. Sampai mana pun ini tetap jalan pulang. Semakin bawah semakin dekat dengan perkampungan jalur setapak semakin landai. Sebuah rumah samar-samar terlihat dari kejauhan. Saya berjalan mengikuti jalur yang menuju rumah itu. Ternyata jalur pulang ini membawa saya tepat ke halaman depan rumah nenek. Dugaan awal Saya benar, seharusnya Saya lewat sini saja tadi. Tapi tidak apa lah, pengalaman tadi seru juga.

Sampai di rumah nenek, kebetulan ada ibu dan kerabat lain sedang bersantai di teras. Dengan haus dan letih Saya duduk di lantai sambil bilang "ambilkan Degan dong!" :))

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]