Senja di Panarukan

Saat itu, bulan Agustus tahun 2017, Saya sedang ada shoitng di Situbonbdo. Satu sore yang lengan dan kebetulan sedang tidak ada jadwal shoting saya jalan-jalan mengendarai motor keluar-masuk kampung sekitar Panarukan. Mengikuti saran seorang teman, "kalau sore cobalah main ke Dermaga Panarukan, pemandangannya bagus" begitu katanya. Karena memang sudah sore, Saya pun bergegas ke sana.

Perahu nelayan melewati matahari terbenam di Panarukan
Mula-mula Saya tidak begitu tahu Dermaga Panraukan ini di mana. Sehingga, tempat pertama yang saya tuju ternyata kampung nelayan. Saya bisa sampai di sana berdasar mengikuti petunjuk halan yang ada. Kemudian Saya berputar-putar lagi di kampung itu, hingga sampailah di Pelabuhan Panarukan.

Tidak ada dermaga seperti yang diceritakan teman Saya. Tapi mungkin inilah pelabuhan yang dahulu kala termasyhur itu, sampai-sampai menjadi titik ujung timur dari jalan pos yang membentang sepanjang pulau jawa yang kini lebih dikenal sebagai jalur pantura.

Sepi, itu kesan pertama yang saya dapati meski banyak kapal motor bersandar. Mungkin karena memang sudah sore, Saya tidak begitu tahu kapan waktu kerja kru kapal atau pelabuhan ini. Apa lagi yang Saya lakukan di sana? Tentu saja berfoto. Menyaksikan hal yang tidak biasa, yang tidak setiap hari Saya lihat, membuat Saya tertarik untuk memotret. Laut, senja, dan kapal motor yang sandar ini menarik perhatian saya, kombinasi key word yang bakal banyak dicari di internet pikir Saya.
Ujung Dermaga Panarukan.
Dari pelabuhan ini, Saya melihat sekeliling. Ada mercusuar di dekat tempat Saya berdiri dan Saya melihat dermaga panjang yang menjorok ke lautan. Mungkin itu dermaga yang diceritakan teman Saya. Sari pelabuhan tempat Saya berdiri, Saya melanjutkan mencari jalan menuju dermaga. Di tengah perjalanan, Saya bertemu dengan bangunan tua, sudah tidak dihuni dan tak terurus rupanya, menyerupai stasiun yang terbengkalai. Terdapat rel yang tertimbun tanah sebagian. Ya, itu memeang stasiun Panarukan. Dahulu pasti ramai orang, kereta mengangkut penumpang dan barang. Tidak jauh dari stasiun Saya sampai di Gerbang Dermaga. Apabila hendak masuk, ternyata harus bayar karcis dulu.

Di Dermaga Panarukan yang panjang ini ternyata ramai pengunjung. Saya perhatikan mereka tidak sedang mau ke mana-mana, sebab hanya ada beberapa kapal yang sandar dan itu pun sepertinya tidak ada yang akan mengangkut penumpang kemudian berangkat entah ke mana. Mereka yang datang ke sini sama seperti Saya, menikmati sore dan hembusan angin laut. Ada yang sambil memancing, ada yang sambil jajan pentol, ada juga yang sekedar ngobrol dan bercanda bersama keluarga, teman, atau kekasih.
Kapal bersandar di Pantai Panarukan yang sedang surut.
Mercusuar.
Panarukan dari kejauhan.
Saya sendiri bersama kamera di genggaman menangkap momen sekejap. Langit timur semakin membiru gelap menampilkan bulan membulat dan kelip lampu permukiman jauh di pangkal dermaga sana. Mercusuar menjadi yang paling terang di antaranya. Langit barat menjingga, merah terbakar matahari bulat kian tenggelam. Momen matahari terbenam macam itu tidak pernah Saya lewatkan tanpa membuat time lapse, video singkat yang disusun dari ratusan foto yang dipotret secara simultan dengan interfal waktu tertentu, tiap dua detik waktu itu. Mulai matahari di atas horizon sampai benar-benar tenggelam di lautan.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram